Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini
Aktualisasi kehidupan manusia berdasarkan semua pada hakikatnya,
tidaklah berlangsung dengan sendirinya dan pula tidak sekedar tampak seperti apa adanya. Perhatikan bayi yang baru
saja lahir, bayi ini secara hakiki dibekali dengan kelima kaidah hakikat manusia sejak
kelahirannya; namun tidak sendirinya ia menjadi manusia dewasa yang beriman dan bertaqwa,
berkompetensi diri dan berbudaya tinggi, terhormat menjujung nilai-nilai
kemanusiaan, berkemampuan mengelola kehidupan pribadi, lingkungan sosial dan
alamnya, serta berpenampilan diri sesuai dengan hak-hak asasinya. Untuk
membentuk karakter pada si anak perlu upaya pengembangan atas diri bayi yang
baru lahir itu, dan seterusnya, berlangsung demikian melalui tahapan-tahapan
perkembangan sepanjang hayatnya.
Pendidikan karakter dibentuk asas, untuk mengetahui tingkah
laku, dan keindividuannya, kefitrahannya dan keberagamaan, dll.
Kefitrahan manusia
diterapkan pada anak usia dini agar mampu melakukan kegiatan yang luhur dan
menolak ke hal yang tidak baik. Dari pembiasaan dari setiap anak sewaktu usia
dini, lebih mudah, daripada anak yang sudah usia atas. Dengan begitu, si anak
akan dapat menemukan kehidupan di dunia dan di akhoratnya sesuai dengan tujuan
penciptaan manusia.
Pendidikan keindividual yang berarti potensi dan perbedaan.
Dimaksudkan bahwa setiap individual pada dasarnya memiliki potensi, baik
potensi fisik, maupun
potensi mental. Misalnya, si anak tersebut mempunyai bakat dan kemampuan dalam bidang
tertentu. Orang tua hendaknya juga mengamati, bagaimana kemauan anak untuk
mengetahui bakat apa yang ada dalam anak. Misalnya anak tersebut
suka dengan menggambar, di sekolah maupun dirumah. Pada saat proses belajar,
Guru menyuruh anak didiknya, membuat sesuatu dengan kretivitas siswa dengan
keinginannya sendiri. Dengan hal tersebut membantu pendidik untuk mngetahui
bakat atau potensi masing-masing.
Kesusilaan adalah kandungan pada nilai dan moral. Dalam hal
ini, digaris bawahi kemampuan dasar setipa individu untuk memberikan harga atau
penghargaan terhadap sesuatu, dalam rentang penilaian tertentu. Sumber dari
moral tersebut adalah agama, adat, hukum, ilmu dan kebiasaan.
Keberagamaan ialah
iman dan taqwa. Pada dasarnya setiap anak memiliki kecenderungan dan kemampuan
untuk mempercayai adanya Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa serta mematuhi
segenap aturan dan perintahNya.Dari anak usia dini harusnya sudah diterapkan
tentang keimanan dan ketaqwaan, dengan hal tersebut membing anak untuk taat dan
patuh dengan yang Maha Kuasa. Apabila anak sudah mengetahui pendidikan
tersebut, akan mengacu ke perilaku yang lebih baik.